INSTITUT KARATE-DO INDONESIA
Dojo 104 - Jakarta Selatan

Kamis, 26 Mei 2011

KATA FREEFORM

Akhir-akhir ini, perkembangan karate semakin dinamis. Dalam beberapa pertandingan karate, sudah ada pertandingan Kata eksibisi yakni Kata bentuk bebas (Kata freeform) yang berbeda dengan bentuk Kata tradisional, sebagaimana sudah dijelaskan dalam artikel ini, Ijtihad Karate: Kata Karate Komposisi Bebas. Meski cakupnya masih di wilayah Eropa, namun ini penting untuk kita simak.
Saya melihat setidaknya ada beberapa hal penting dalam Kata freeform ini apabila kita bandingkan dengan Kata tradisional dari semua aliran. Di antaranya:
  1. Karena bersifat eksibisi, Kata ini secara umum belum punya nama yang jelas dan terlihat masih banyak perubahan dari pertandingan ke pertandingan.
  2. Banyak lompatan putar badan. Ini berbeda dengan Kata tradisional yang jarang menggunakan lompatan beberapa kali dalam Kata.
  3. Posisi lutut sering menyentuh lantai. Dalam Kata tradisional jarang sekali ini terjadi, misal di Paiku atau di Gankaku.
  4. Proporsi gerakan cepat cenderung lebih banyak, sementara dalam Kata tradisional banyak Kata yang menggunakan speed yang pelan, cenderung lebih menggunakan nafas, misal di awal Kata Sumarimpei/ Suparinpei atau Kata Tensho.
  5. Kuda-kuda kaki lebih panjang dan lebar. Lebih banyak zenkutsu dachi, siko dachi, atau kokutsu dachi, dan kiba dachi dibanding nekoashi dachi atau sanchin dachi dan sejenisnya. Saya menduga karena ini faktor orang Eropa. Sebab saya lihat ada beberapa atlet Kata dari aliran non-Shotokan pun, kuda-kudanya lebih besar dan panjang.



Itu adalah sebagian karakter Kata yang baru dan saya pikir karakter Kata freeform ini pun bisa saja berubah. Bukan waktunya lagi kita menolak adanya perubahan ini, namun yang penting eksplorasi ini tidak mengubah susunan dan pola Kata tradisional sebelumnya. Semoga menjadi bahan diskusi. Osh. [by BM] http://karatedo-indonesia.blogspot.com/2011/01/kata-freeform.html Read More...

KARATE DAN ROKOK

Coba perhatikan tulisan yang berlatar merah di bagian belakang bungkus rokok. Di sana tertulis peringatan bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan, ada kanker paru-paru, efek pada bayi dan janin, impotensi, dan lainnya. Peringatan gencar dari kementerian kesehatan dan juga LSM-LSM, juga pemda-pemda, tidak berhasil!
Judul ‘Karate dan Rokok’ memang sepintas tidak ada korelasi yang cukup penting. Namun, saya melihat ini penting untuk kita ketahui. Apa alasannya?
Di karate kita belajar gerakan yang membutuhkan pernafasan yang prima. Keseimbangan badan, nafas, juga kesiapan tubuh menjadi penting untuk dilatih. Merokok adalah penghilang ‘keseimbangan’ kebugaran fisik juga kelancaran nafas. Sehingga tidak sinkron kita ingin badan menjadi semakin sehat, di sisi lain jalan menuju sehat kita hambat secara sengaja. Juga, gak asyik kalau lihat karateka (apalagi senpai) istirahat latihan karena nafas tersengal akibat merokok.
Saya menghargai pilihan merokok, namun pilihan karateka menjadi perokok itu buruk. Saya yakin, karateka perokok pun memahami ini. Saya pun tidak punya hak memaksa untuk semerta-merta mereka untuk berhenti merokok, hanya sebatas menganjurkan. Master Gichin mengatakan Mazu jiko wo shire, shikoshite tao wo shire (Know yourself first, and then others). Artinya Pertama kenali (kuasai) dirimu sendiri baru orang lain. Bagi kita mengendalikan (menguasai) diri untuk tidak merokok itu bukti nyata konsisten dengan semangat dan jalan seorang bushi. Selain baik untuk kesehatan, tidak merokok adalah contoh karateka teladan.
Semoga kita bisa memberikan contoh teladan bagi kohai kita. Semoga bermanfaat dan menjadi bahan diskusi. Osh. [by BM] http://karatedo-indonesia.blogspot.com/2011/01/karate-dan-rokok.html Read More...

MENYIBAK AWAN DI ANGKASA


Kedua tangan bergerak merapat dan perlahan mendekati wajahnya. Seolah membuka tirai, kedua tangan itu lalu bergerak melebar kesamping. Tiba-tiba gerakan tangan yang cepat menghentak bersamaan dengan nekoashi dachi (kuda-kuda kaki kucing) mengejutkan penonton. Ah…rupanya dia sedang menampilkan kata Unsu.

Nama Unsu berasal dari dua huruf kanji yaitu “un” berarti awan, dan “shu” yang berarti tangan. Unsu dapat diartikan sebagai “bagaikan tangan yang menyibak awan.” Ada juga yang mengartikan “tangan bergerak mirip awan yang berarak di angkasa.” Nama ini juga sangat tampak pada gerakan pembuka kata ini. Konon di masa lalu ada yang menyebut Unsu dengan Hakko.

Menurut legenda, Unsu diperkenalkan pertama kali oleh Arakaki Seisho sekitar tahun 1890. Sejak banyaknya modifikasi kata saat ini, bentuk asli dari kata Unsu sulit dipastikan. Versi Shotokan mengadopsi dari Shito-ryu (disebut Unshu) yang jumlah gerakannya lebih banyak. Sekitar tahun 1960-an Shotokan baru resmi memasukkan kata Unsu dalam silabus mereka.

Menurut sejarahnya, Shotokan mendapatkan kata Unsu setelah Gichin Funakoshi meminta beberapa muridnya untuk belajar pada Kenwa Mabuni. Selain Unsu, ada juga beberapa kata lain yang dipelajari misalnya Nijushiho dan Gojushiho. Namun belajar banyak kata dalam waktu singkat jelas hal yang mustahil. Itulah sebabnya kata Shotokan yang diadopsi dari Shito-ryu mengalami pemangkasan gerakan disana-sini.

Sebagaimana ditulis Funakoshi dalam bukunya, Okinawa adalah pulaunya angin topan. Masyarakat setempat kemudian membuat semacam tarian tradisional yang menggambarkan keadaan di saat badai. Entah legenda itu benar atau tidak, konon Arakaki menciptakan kata Unsu setelah terinspirasi tarian tersebut.

Meskipun jauh lebih pendek dari versi aslinya, Unsu dari Shotokan terkenal sebagai kata yang indah dan sangat sulit. Selain lompatan tinggi selebar 540 derajat, teknik dua jatuhan dan pukulan cepat empat penjuru menjadi alasannya. Masatoshi Nakayama mengatakan untuk menguasai Unsu, maka sebelumnya paling tidak telah menguasai seluruh kata Heian, Kanku dan Jion. Tanpa ketiganya sama saja seperti boneka orang-orangan sawah yang menari.

Bicara masalah lompatan, pada mulanya sangat sedikit orang-orang di JKA yang mampu melakukannya. Bahkan Nakayama dan sang maestro Hirokazu Kanazawapun tidak sanggup. Adalah Mikio Yahara yang berhasil melakukan lompatan Unsu seperti yang dicontoh banyak orang saat ini.

Siapa sebenarnya Yahara? Pemuda yang awalnya gemar berkelahi ini termasuk murid terbaik di JKA. Bahkan karena kemampuannya itu, Nakayama memintanya menjadi model peraga kata Unsu di beberapa video komersil produksi JKA. Yahara juga mendominasi turnamen di era tahun 1980-an. Kata Unsunya terkenal cepat, indah dan bertenaga. Sekalipun sekarang irama menjadi poin penting dalam pertandingan kata, gerakan Yahara yang terkesan tradisional saat itu tetap dikagumi hingga kini.

Jika Anda amati, tren melompat ini rupanya juga “mewabah” ke dalam gaya kata Shito-ryu. Beberapa tahun terakhir ini banyak peserta kata dari Shito-ryu yang memasukkan gaya melompat dalam kata mereka. Cobalah amati kata seperti Koshokun Dai, Koshokun Sho dan Chatanyara Kushanku. Bahkan ada juga yang mengadopsi lompatan Unsu Shotokan dalam Unshu versi Shito-ryu.

Bagi peserta kata dari Shotokan, hal ini jelas harus dipikirkan. Ini karena Shito-ryu mempunyai jumlah kata yang sangat banyak dan panjang. Bandingkan dengan kata Shotokan yang lebih sedikit dan mayoritas lebih pendek. Jika Anda praktisi Shotokan spesialis nomor kata, maka menguasai Unsu adalah sebuah keharusan. (Indoshotokan) http://indoshotokan.blogspot.com/2011/05/menyibak-awan-di-angkasa.html Read More...