INSTITUT KARATE-DO INDONESIA
Dojo 104 - Jakarta Selatan

Kamis, 21 April 2011

Sambutan Ketua PB FORKI pada HUT INKAI KE-40 dan pelepasan balon

http://www.facebook.com/video/video.php?v=142978295770520
http://www.facebook.com/video/video.php?v=142982865770063 Read More...

Senin, 18 April 2011

MISTERI TORA NO MAKI

Selain berlatih karate pada Azato dan Itosu, Funakoshi juga belajar seni sastra pada gurunya ini. Tampaknya hal ini berpengaruh besar pada munculnya simbol harimau yang kemudian lazim dikenal dengan Tora no Maki yang digunakan oleh Shotokan dan Shotokai saat ini.

Ketika Funakoshi masih muda, dia gemar berjalan-jalan dalam kesunyian diantara pohon-pohon cemara yang mengelilingi rumahnya di Shuri, Okinawa. Setelah sehari yang berat diisi dengan mengajar di beberapa sekolah di daerahnya ditambah beberapa jam lebih diisi dengan latihan karate yang giat, dia kerap kali akan mendaki Gunung Torao dan kemudian bermeditasi diantara pepohonan cemara dibawah bintang-bintang dan bulan yang terang. Gunung Torao amatlah dekat, gunung ini ditumbuhi pepohonan hingga begitu lebatnya yang apabila diamati dari kejauhan menyerupai ekor seekor harimau. Dalam kenyataannya nama Torao memang berarti ekor harimau.

Pada waktu-waktu berikutnya, Funakoshi menerangkan bahwa angin dingin yang berdesir diantara pepohonan cemara di Gunung Torao membuat pohon-pohon tersebut bergerak seperti layaknya gelombang yang memecah di pantai. Demikianlah, sejak didapatkannya inspirasi itu dia memilih nama Shoto yang selalu dibubuhkannya sebagai tanda tangan di akhir karya tulisnya.

“Shoto” sebagai nama yang ditulis oleh Funakoshi memiliki arti pohon cemara yang bergerak laksana gelombang. Sedangkan “kan” berarti ruang atau balai utama (yang kemungkinan besar tempat murid-muridnya berlatih. Nama ini kemudian dianugerahkan oleh murid-muridnya sebagai penghormatan pada Funakoshi dengan ditulis pada papan nama dojo yang dibangun di Tokyo tahun 1936.

Munculnya simbol harimau yang dikerjakan oleh Hoan Kosugi ini tidak begitu jelas. Sumber pertama menyebutkan ketika Funakoshi berniat kembali ke Okinawa dirinya didatangi oleh Hoan Kosugi. Seorang pelukis ternama saat itu yang meminta pelajaran karate bagi dirinya dan teman-temannya di Kelompok Tabata. Perkumpulan ini adalah wadah berkumpulnya para seniman yang terbaik di masa itu. Kosugi meminta pelajaran dari Funakoshi karena saat itu dia tidak menemukan guru karate yang lebih pantas dari Funakoshi.

Ketika itu Funakoshi berniat menulis buku Ryukyu Kempo Karate, Kosugi mengatakan pada Funakoshi kalau dirinya bersedia melukis sampul depannya. Kosugi kemudian melukis gambar harimau yang disebutnya Tora no Maki. Di Jepang istilah Tora no Maki merupakan istilah resmi bagi karya tulis untuk suatu seni atau suatu sistem. Kosugi menjelaskan pada Funakoshi bahwa buku yang akan ditulisnya akan menjadi “Tora no Maki” nya karate. Dan sejak kata “tora” berarti harimau, Kosugi melukis gambar harimau sebagai simbolnya.

Sumber lain mengatakan kalau Kosugi sangat terkesan dengan latihan karate yang diterimanya dari Funakoshi. Kemudian ketika didengarnya Funakoshi akan menulis buku dengan segera dia mengusulkan diri untuk melukis sampulnya. Dikatakan bahwa Kosugi mengambil ide harimau karena menurut kepada filosofi tradisional Cina yang mempunyai makna bahwa ’’harimau tidak pernah tidur’’. Harimau mempunyai sifat yang tenang namun tetap waspada. Perasaan ini dirasakan oleh Kosugi ketika berlatih dibawah Funakoshi. Tampaknya makna ini dikemudian menjadi sangat populer.

Funakoshi sangat terkesan ketika diterimanya hasil karya Kosugi ini. Mengingatkannya akan kenangan masa mudanya ketika masih mendaki gunung Torao. Funakoshi berniat membayar hasil karya ini, namun Kosugi menolaknya. Kosugi hanya meminta Funakoshi mengajarinya karate berikut filosofi besar yang terkandung didalamnya. Terharu mendengar jawaban ini, Funakoshi menerima tawaran itu dan merekapun terus menjalin persahabatan baik.

Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Funakoshi sendiri yang meminta pada Kosugi untuk melukis simbol harimau itu baginya. Setelah diketahuinya Kosugi adalah seorang pelukis yang pandai.

Tidak dapat dipastikan mana yang pasti dari kisah-kisah itu. Barangkali diantara kisah-kisah itu ada yang benar. Namun yang pasti Funakoshi kemudian menggunakan lukisan harimau itu sebagai sampul depan bukunya Ryukyu Kempo Karate yang terbit tahun 1922.

Setelah meninggalnya Funakoshi seluruh aset, dokumen berikut lukisan harimau diserahkan kepada Shigeru Egami oleh keluarga Funakoshi. Egami sendiri di kemudian hari tetap pada Shotokai sebagai organisasinya. (Fokushotokan.com)(http://indoshotokan.blogspot.com/2008/03/misteri-tora-no-maki.html)
Read More...

NAKAYAMA - ANTARA LEGENDA & KONTROVERSI (2)

Bicara tentang pandangannya tentang karate, Nakayama mempunyai konsep yang lebih luas. Jika sebagian orang menyatakan manfaat karate adalah untuk meningkatkan kondisi fisik, maka Nakayama menjabarkannya dengan lebih luas. Menurut Nakayama karate adalah sebuah latihan fisik yang menggerakkan seluruh anggota tubuh ke segala arah baik berurutan dan bersamaan.

Dengan didukung tekad yang kuat, hanya berbekal tangan kosong saja seseorang mampu melancarkan teknik yang terkontrol baik ke sasaran. Dengan demikian teknik karate yang dilakukan dengan benar seharusnya efektif meski menghadapi lawan seperti apapun. Meski Nakayama membenarkan fungsi karate sebagai bela diri, ditegaskan olehnya bahwa tujuan karate sejak dulu hingga kini masih sama. Hal itu adalah sebagai dasar yang kuat untuk mengembangkan setiap individu baik secara emosi, fisik dan spiritual.

Dalam beberapa tulisan dan wawancara dengannya, Nakayama menegaskan bahwa karate lebih dari sekedar menang atau kalah. Karate adalah “alat” untuk mengatasi tantangan tidak hanya dalam berlatih, namun juga dalam hidup ini. Keyakinan ini masih berhubungan dengan konsep “do” (jalan, arah) yang pernah diutarakan Funakoshi. Bagi Nakayama konsep “do” menjadikan seni karate digunakan sebagai cara untuk mencapai kebajikan dan kesempurnaan karakter. Dimana untuk mencapainya butuh proses sepanjang hidup karena di dunia ini tiada seorangpun yang sempurna. Diutarakan olehnya:

”Kemajuan seseorang dalam seni karate-do mirip dengan menaiki sebuah tangga atau melangkah di jalan yang curam. Seiring tubuh dan pikiran yang tumbuh bersamaan, seseorang akan terus melangkah ke depan dan naik, satu langkah dalam satu waktu.”

Barangkali sudah bukan rahasia lagi jika Nakayama dituding sebagai tokoh yang bertanggung jawab atas munculnya kompetisi karate (sport karate). Akibat tindakan itu banyak orang memujinya meski tidak sedikit pula yang mencelanya. Mereka yang memuji umumnya berasal dari generasi baru karate Jepang yaitu pasca Perang Dunia II. Saat itu banyak anak muda Jepang yang ingin melihat karate dapat dipertandingkan seperti baseball atau basket. Mereka berharap kompetisi karate dapat menjadi semacam obat bagi Jepang yang telah kalah perang. Selain itu anak muda Jepang juga ingin melanjutkan kumite yang sempat diperkenalkan sebelumnya.

Nakayama melihat hal itu sebagai kesempatan untuk mempopulerkan karate yang sempat terhenti akibat krisis perang. Dengan melakukan berbagai riset, Nakayama mulai membandingkan karate dengan peraturan cabang olah raga lain. Dengan latar belakangnya sebagai profesor bidang olah raga, Nakayama tidak menemui kesulitan yang berarti. Hasilnya adalah turnamen karate JKA pertama yang digelar tahun 1957 di Tokyo. Acara itu sukses besar hingga publik Jepang rela berdesakan di dalam gedung menyaksikan momen yang diakui bersejarah sekaligus revolusioner. Begitu hebohnya hingga negara barat juga kagum dengan keberhasilan Jepang menggelar acara semegah itu. Peristiwa itu seakan menghapus memori buruk akibat serangan bom atom yang masih menyisakan trauma hingga kini.

Namun ternyata tidak semua pihak turut gembira dengan kesuksesan Nakayama dan JKA. Dibelakang gemerlap kompetisi karate yang pertama itu terbersit penyesalan dan kekecewaan dari murid-murid senior Funakoshi. Mereka seakan tidak percaya JKA berani melanggar larangan Funakoshi dengan terang-terangan. Bahkan tidak sedikit yang kemudian menganggap Nakayama dan JKA telah mengkhianati cita-cita Funakoshi. Namun mereka yang kecewa dengan hal itu memilih untuk tidak mengumbar konfrontasi terbuka. Mereka lebih memilih menyatukan mengumpulkan rekan-rekannya yang masih mempunyai tujuan sejalan dengan prinsip Funakoshi. Dengan tegas mereka menyatakan menarik diri dari segala turnamen, komersialisasi karate dan berharap para antusias karate di dunia akan mengetahui perbedaan antar dua kelompok itu.


Gichin Funakoshi & Masatoshi Nakayama

Meskipun banyak yang menuduhnya sebagai otak dibalik munculnya kompetisi karate, Nakayama tampaknya sangat berhati-hati menanggapi masalah ini. Nakayama sadar bahwa esensi karate yang berubah akibat kompetisi adalah pertanyaan yang sangat sensitif dan sulit dijawab. Sehingga hingga kini memang sulit dibuktikan apa tujuan sebenarnya Nakayama menggelar acara itu. Murid-murid Nakayama yang paling awal seperti Hirokazu Kanazawa (SKIF), Keigo Abe (JSKA) dan Tetsuhiko Asai (JKS) bahkan tidak mengetahui motif Nakayama. Orang terdekat Nakayama yaitu Teruyuki Okazaki (ISKF) yang membantunya meriset peraturan kompetisi juga tidak mampu berkomentar banyak. Satu-satunya argumentasi Nakayama berkaitan dengan hal ini adalah, dirinya menambahkan peraturan olah raga dalam karate untuk menghindari resiko cedera akibat teknik yang tidak terkontrol. Hal itu dilakukan setelah Nakayama mengamati kumite yang terjadi tahun 1930-an.

Harus diakui pernyataan itu tidaklah cukup menjawab alasan sebenarnya Nakayama berani menggelar kompetisi karate. Akibatnya munculah pernyataan yang serba spekulatif dari publik karate dunia. Misalnya kompetisi sebenarnya tidak lebih dari upaya Nakayama untuk mempopulerkan karate JKA keluar negeri. Seperti telah diketahui bahwa orang barat sulit menerima karate karena filosofinya yang rumit dan dinilai tidak masuk akal. Gegap gempita kompetisi karate seakan telah melupakan pandangan orang barat tentang filosofi karate. Bagi mereka karate mirip dengan olah raga seperti basket yang berusaha mencuri poin sebanyak mungkin. Sehingga jika melihat cabang JKA yang kini tersebar di luar negeri, tidak heran banyak yang mengidolakan sosok Nakayama.

Nakayama percaya bahwa dirinya tidak pernah ingin atau telah melanggar prinsip Funakoshi meski menyebarkan semangat karate dengan jalan yang berbeda. Keyakinannya senada dengan yang pernah diungkapkan Funakoshi bahwa karate sebenarnya seni bela diri yang tidak pernah selesai. Artinya, di masa depan karate akan terus berkembang dan berubah karena dipengaruhi oleh banyak orang dan banyak hal.

"Saat aku mati kelak, aku berharap master Funakoshi tidak akan memarahiku karena memperkenalkan karate sebagai kompetisi olah raga (sport karate). Namun kukira dia tidak akan terlalu kecewa. Dia ingin aku menyebarkan karate-do ke penjuru dunia, dan kompetisi karate telah berhasil mewujudkannya." - Masatoshi Nakayama -. (Fokushotokan.com)(http://indoshotokan.blogspot.com/2008/10/nakayama-antara-legenda-kontroversi-2.html) Read More...

NAKAYAMA - ANTARA LEGENDA & KONTROVERSI (1)


Posturnya terlihat tegap dan kuat. Sorot matanya tajam, kadangkala terkesan dingin bagi beberapa orang. Sebagian mengaguminya sebagai figur yang berwibawa dengan keahlian karate yang tidak diragukan lagi. Sebagian membencinya karena tindakannya yang dianggap melanggar larangan sang guru. Kontroversial, adalah kata yang sering melekat padanya. Namun tidak diragukan lagi, dia juga salah satu loyalis dari Bapak Karate Moderen. Jika Funakoshi menyebarkan karate di Jepang, maka dirinya telah menyebarkan karate ke penjuru dunia.

Masatoshi Nakayama adalah salah satu tokoh awal karate Shotokan. Namanya terkenal karena merubah fungsi karate sebagai kompetisi olah raga, sebuah cita-cita yang tidak pernah diinginkan oleh Funakoshi yang menggunakan karate sebagai “do”. Dilahirkan di Prefektur Yamaguchi tanggal 13 April 1913, Nakayama masih mempunyai hubungan dengan klan Sanada yang legendaris. Keluarga Nakayama secara turun-temurun menguasai bela diri tradisional Jepang. Naotoshi (ayahnya) belajar judo sedangkan Naomichi (kakeknya) terkenal sebagai instruktur kendo ternama. Antusias pada bela diri agaknya mengalir dalam darah Nakayama yang juga berlatih kendo dan judo sejak anak-anak.

Saat usianya beranjak remaja, Nakayama pindah ke Taiwan untuk meneruskan sekolahnya. Sebagai anak muda yang bersemangat, Nakayama terlibat dalam banyak kegiatan klub seperti atletik, renang, tennis dan ski. Meski sangat sibuk Nakayama tidak melupakan latihan kendonya. Sang kakek sangat gembira melihat cucunya menggeluti bela diri yang sama dengannya. Dirinya berharap agar kelak Nakayama akan mengikuti jejaknya sebagai instruktur kendo. Namun ternyata hal lain justru ada dalam benak Nakayama. Belajar di Taiwan agaknya menimbulkan rasa penasaran sekaligus keinginan untuk pergi Cina. Namun saat itu tidak mudah mencapainya karena dibutuhkan biaya yang tinggi. Nakayama kemudian memilih Universitas Takushoku untuk mewujudkan impiannya. Saat itu lulusan Takushoku memang banyak dikirim ke negara Asia untuk bekerja atau sebagai wakil Jepang.

Tahun 1932 diam-diam Nakayama mengikui tes masuk di Universitas Takushoku dan berhasil lulus. Nakayama sangat beruntung karena Takushoku terkenal sebagai universitas dengan koleksi bela diri tradisional Jepang yang lengkap. Dengan demikian dirinya tidak perlu susah-susah melanjutkan latihan kendonya. Saat jadwal latihan untuk seluruh kegiatan klub akhirnya diterbitkan, Nakayama ternyata keliru membaca jadwal latihan kendo yang terbalik dengan karate. Begitu datang ke dojo, Nakayama baru menyadari bahwa dirinya hadir di hari yang salah. Meski kecewa, Nakayama tidak langsung pulang, melainkan ingin melihat latihan karate dari dekat.

“…Di surat kabar aku telah membaca tentang karate, namun aku tidak begitu banyak mengetahuinya, karena itu kuputuskan untuk duduk dan melihatnya sebentar. Tidak lama, seorang laki-laki tua datang ke dojo dan mulai memberi aba-aba pada para murid. Dia benar-benar sangat ramah dan tersenyum pada siapapun, tapi tidak diragukan lagi bahwa dia adalah instruktur kepala. Hari itu, aku melihat Master Funakoshi dan karate untuk pertama kalinya. Aku menyukainya dan karena itu aku ingin mencoba karate pada latihan berikutnya, karena dengan pengalamanku di kendo seharusnya karate akan lebih mudah. Pada latihan berikutnya, dua hal yang terjadi telah mengubah hidupku; Pertama, aku benar-benar telah lupa dengan kendo, dan kedua, aku menemukan bahwa seluruh teknik karate ternyata tidak mudah dikerjakan. Sejak hari itu hingga sekarang, aku tidak pernah kehilangan semangat untuk berusaha menguasai teknik karate-do.”

Begitulah, Nakayama kemudian mulai menjalani latihan karate di Takushoku yang terkenal paling berat dan melelahkan. Saat itu hanya ada dua macam latihan karate, yaitu memukul makiwara sekitar 1000 kali dan mengerjakan satu macam kata 50-60 kali. Latihan yang membosankan namun menuntut fisik dan semangat yang prima itu berlangsung selama 5 jam. Akibatnya tidak banyak murid yang mampu bertahan, hingga dalam waktu 6 bulan hanya tersisa sedikit saja. Nakayama terus bertahan dan mengerjakan seluruhnya tanpa mengeluh.

Setahun setelah Nakayama bergabung dengan klub karate, latihan kumite mulai diperkenalkan. Tahun 1933 berturut-turut gohon kumite (5 teknik), sanbon kumite (3 teknik) dan ippon kumite (1 teknik) mulai diajarkan. Nakayama yang sebelumnya telah belajar kendo tidak begitu kesulitan dengan latihan model baru ini. Tahun 1934 kumite setengah bebas (jiyu ippon kumite) diajarkan dan ternyata mendapat respon yang positif dari kalangan mahasiswa. Model kumite ini adalah inovasi dari Yoshitaka Funakoshi yang terinspirasi dari latihan kendo. Sayangnya Nakayama saat itu telah pergi ke Cina hingga tidak begitu lama merasakan jiyu ippon kumite. Saat itu latihan kumite dianggap sebagai pengusir kebosanan dengan latihan Funakoshi yang hanya fokus pada kihon dan kata saja.

Tahun 1937 menjadi tahun yang melelahkan namun menggembirakan bagi Nakayama. Saat itu Nakayama berhasil lulus dari Takushoku namun harus pergi ke Cina sebagai wakil pertukaran pelajar dengan Universitas Peking. Nakayama dipilih karena termasuk pemuda yang pandai, apalagi sebelumnya telah belajar bahasa Cina di sela kesibukan karatenya. Saat akan kembali ke Jepang, Nakayama ternyata harus menundanya karena bekerja untuk pemerintah Cina selama beberapa waktu. Tahun 1946 Nakayama baru kembali ke Jepang, setahun setelah negara itu mendapat mimpi buruk akibat kalah perang. Saat itulah Nakayama mendapati kenyataan pahit dengan banyak rekannya di dojo telah tewas. Meski sulit, Nakayama berusaha mengumpulkan mereka yang pernah aktif berlatih karate dan mencoba mengorganisir latihan seperti sebelum perang. Tahun 1947 Nakayama menjadi instruktur kepala di Takushoku menggantikan Funakoshi. Upaya Nakayama berhasil mengembalikan reputasi Takushoku sebagai yang paling aktif dalam karate sesama dojo universitas.

Angin perubahan dunia karate Jepang terjadi tahun 1949 saat dibentuk Japan Karate Association (JKA). Organisasi ini muncul setelah beberapa murid senior Funakoshi menginginkan satu wadah yang resmi karate. Lebih jauh untuk menyatukan seluruh praktisi karate Jepang yang tercerai berai pasca perang. Meskipun dalam JKA Funakoshi bertindak sebagai guru besar kehormatan, namun usia yang telah lebih dari 80 tahun membuatnya tidak mungkin bertindak sebagai instruktur. Karena itulah Nakayama dipilih sebagai instruktur kepala mewakili Funakoshi. Tidak lama sesudahnya, tahun 1952 bagian pendidikan jasmani di Takushoku meminta bantuannya sebagai staf pengajar. Posisi itu adalah awal karirnya, karena di masa mendatang Nakayama menjadi kepala di divisi tersebut.

Setelah Funakoshi meninggal dunia, Nakayama berperan besar dalam proses awal JKA hingga menjadi besar seperti sekarang. Selain sebagai instruktur kepala, Nakayama melakukan banyak riset dalam karate. Agaknya posisi yang dekat dengan dunia akademis membuat Nakayama tidak kesulitan dengan hal itu. Hasilnya adalah apa yang terlihat dalam JKA moderen saat ini tampil sebagai organisasi karate yang terbesar di dunia. Ada tiga hal utama yang dianggap sebagai inovasi terbaik dari Nakayama, yaitu: menyebarkan karate ke penjuru dunia, program pelatihan calon instruktur JKA dan kompetisi karate. Meski banyak mendapat repon positif, seluruhnya program itu masih menyisakan pro dan kontra bahkan hingga kini.

Untuk mendukung promosi Shotokan JKA, Nakayama menerbitkan banyak buku karate. Diantaranya adalah “Dynamic Karate” (1965, 2 volume), Best Karate (1977, 11 volume), “Katas of Karate” (5 volume) dan “Superior Karate” (11 volume).(Fokushotokan.com)(http://indoshotokan.blogspot.com/2008/10/nakayama-antara-legenda-kontroversi.html)
Read More...

KISAH NAKAYAMA & ULAR BERBISA


Sebelum JKA mempunyai dojo sendiri, sejak aku lulus dari universitas tidak ada tempat bagi kami untuk berlatih karate. Satu-satunya tempat hanyalah dojo-dojo di universitas. Disamping itu aku sibuk bekerja, tujuh hari seminggu di sebuah rumah makan yang ramai. Sebelumnya aku ingin membuka usaha sendiri sebab kupikir dengan itu akan cukup waktu untuk berlatih karate. Ternyata hal itu tidak mungkin karena aku harus bekerja sepanjang waktu hingga aku tidak punya waktu untuk orang lain. Untunglah tidak lama kemudian aku bekerja pada seorang teman yang sangat baik. Dia mengijinkanku beristirahat kapanpun saat aku ingin berlatih karate.

Suatu hari Sensei Nakayama mengajakku menemaninya berkunjung ke Thailand untuk memperkenalkan seni karate. Sebelumnya sebuah undangan untuk mengajar telah sampai, karena itu kami berencana pergi selama dua bulan untuk mengajar, bersantai sambil mempelajari tentang negara itu .

Di Thailand kami melihat banyak hal, dan kami sangat menikmatinya. Salah satu pertunjukan jalanan yang terkenal di Thailand adalah pertarungan antara ular kobra melawan musang. Tontonan itu tersedia setiap hari, dan bagi penduduk lokal sangatlah menarik. Tentu saja Sensei Nakayama takut dengan ular, awalnya dia tidak berani melihat tontonan itu dari dekat. Namun kukatakan padanya,”Sensei, kita disini hanya sebentar. Kita harus mengambil beberapa gambar dari tontonan ini karena kita tidak akan melihat Thailand lagi”.

Begitulah, akhirnya dia merogoh kameranya dan mendekati pertunjukan yang sedang berlangsung. Dia berdiri sejauh-jauhnya dari ular itu sambil sedikit membungkuk untuk mengambil gambar. Sementara itu, disisinya ada sebuah keranjang yang berisi ular. Tanpa diketahui oleh Sensei Nakayama seekor ular muncul dan merayap mendekatinya. Dirinya saat itu benar-benar fokus mengambil gambar hingga tidak menyadari ular lain tengah mendekatinya. Aku berkata,”Sensei, hati-hati dengan ular itu, dia sedang menuju kearahmu. Dengan terlihat sedikit kesal dia hanya melambaikan tangannya padaku agar sabar menunggu. Aku berkata lagi,”tidak Sensei, ada ular sedang mendekatimu”. Tiba-tiba dia melihat kebawah dan terlihat olehnya seekor ular kobra besar nyaris saja mematuknya. Sensei Nakayama langsung melompat ke belakang dengan ketakutan, dan kemudian melarikan diri. Selanjutnya seharian itu aku tidak melihatnya dimanapun.

Saat itu Thai boxing sangat populer di Thailand, dan surat kabar lokal telah mendengar kedatangan kami. Di pemberitaan dimuat bagaimana jadinya jika seorang juara Thai boxing akan melawan praktisi karate dalam sebuah pertandingan. Orang Thailand sangat bangga mempunyai olah raga ini. Beberapa surat kabar ada yang menceritakan tentang kami, bahkan membandingkan karate dengan Thai boxing. Sejak itu hampir setiap hari aku pergi menyaksikan beberapa pertandingan Thai boxing untuk melihat seperti apa bentuknya. Aku sangat percaya diri mampu mengalahkan mereka (saat itu aku juga masih muda). Aku berkata pada Sensei Nakayama,” Sensei aku bisa saja mengalahkan mereka, aku tahu aku mampu”. Saat itu tradisi di Thailand si penantang harus melawan asisten senior lebih dulu. Jika si penantang berhasil mengalahkan si asisten, maka dia baru berhak menantang seniornya. Karena itu aku ingin sekali menantang petarung Thai boxing.

Namun demikian si juara Thai boxing ternyata juga hadir menyaksikan demonstrasi karate kami. Sensei Nakayama kemudian menampilkan teknik dasar karate seperti pukulan, tendangan, tangkisan, pergerakan badan dan berbagai variasi teknik lainnya. Sang juara Thai Boxing akhirnya menyadari bahwa karate mempunyai lebih banyak teknik daripada Thai Boxing. Dia berpendapat pertandingan apapun antara kedua bela diri ini akan menjadi tidak adil. Keduanya terlalu berbeda. Karena itulah kami tidak pernah mengadakan sebuah pertandingan.

Masyarakat lokal tampaknya tidak begitu gembira dengan keputusan kami, dan kami mendapat pemberitaan buruk dari media karenanya. Suatu hari ketika kami sedang berjalan bersama, tiba-tiba seorang anak menghampiri kami. Selanjutnya dengan terang-terangan dia menantang kami untuk berkelahi dengannya. Sensei Nakayama hanya menjawab,”tidak”, dan kami mencoba meneruskan perjalanan. Saat mencoba menghindar, tiba-tiba anak itu melayangkan tendangan ke kepala Sensei Nakayama. Kemudian anak itu telah terbujur pingsan di tanah. Sensei Nakayama telah melakukan sesuatu yang sangat cepat, dan hingga kini aku masih belum tahu apa yang terjadi. Kemudian Sensei Nakayama mengatakan, “lari !”, dan kami segera menyingkir dari tempat itu.

Sensei Nakayama merasa sangat malu dengan perbuatannya telah menyerang anak yang menantangnya tempo hari, karena Master Funakoshi telah melarangnya terlibat dalam perkelahian. Tubuhnya hanya bereaksi ketika tendangan itu mengarah padanya. Dia berpesan padaku agar tidak mengatakan pada siapapun tentang kejadian hari itu, karena Master Funakoshi akan sangat marah padanya. Tentu saja sekarang beliau telah meninggal, sehingga tidak apa-apa jika aku menceritakan kisah ini pada kalian. Apalagi hal itu telah menunjukkan kebesaran dan kerendahan hatinya.

Kejadian lain adalah saat aku dan Sensei Yaguchi membantu Sensei Nakayama di akademi militer Jepang. Setiap tahun ada akademi militer dan Sensei Nakayama diminta mengajar bela diri sebagai bagian program pelatihan. Tentu saja di Jepang ada budaya memberi hadiah pada instruktur, karena itulah beberapa murid bertanya padaku dan Sensei Yaguchi hadiah apa yang disukai Sensei Nakayama. Sensei Yaguchi menjawab (bergurau),”Oh, dia suka dengan ular”. Murid-murid melihat padaku dan akupun mengangguk.,”Ya benar, dia sangat menyukai ular”. Kemudian aku dan Sensei Yaguchi tertawa dengan hal itu. Kami kira murid-murid juga menyadari bahwa kami hanya bercanda dan kamipun melupakannya.

Tidak lama sesudah itu beberapa murid membawa sebuah hadiah yang dibungkus dengan cantik kepada Sensei Nakayama. Saat itu aku dan Sensei Yaguchi juga sedang di kantor bersama Sensei Nakayama. Murid-murid meletakkan hadiah itu diatas meja sambil mengucapkan terima kasih pada Sensei Nakayama atas segala latihan yang telah diberikan. Sensei Yaguchi dan aku samar-samar mendengar suara berdesis berasal dari dalam kotak, dan dengan sangat terkejut kami saling melihat satu sama lain. Kami tidak dapat berkata apapun selain menyadari murid-murid telah menganggap serius perkataan kami tempo hari. Ternyata mereka telah mendaki ke gunung dan menghabiskan banyak waktu berburu sepasang ular yang bagus sebagai hadiah.

Tentu saja, setelah Sensei Nakayama membuka hadiah itu dia segera melemparkannya dan melarikan diri dari ruangan. Sepanjang hari itu kami tidak melihatnya. Karena bingung apa yang harus dilakukan, kami menuju ke rumahnya dan berbicara dengan istrinya. Kami menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan ketidaktahuan kami bahwa murid-murid ternyata percaya tentang ular itu. Dia hanya tertawa dan berkata tidak perlu khawatir, dia akan berusaha menjelaskan pada suaminya apa yang sebenarnya terjadi. Namun demikian, hal itu tampaknya tidak begitu berhasil. Dia terlanjur sangat marah dan enggan berbicara dengan kami dalam waktu yang lama. (Fokushotokan.com)(http://indoshotokan.blogspot.com/2008/07/kisah-nakayama-ular-berbisa.html) Read More...

GASHUKU AKBAR NASIONAL INKAI SE-INDONESIA DAN ULANG TAHUN KE-40TH


Inkai Cianjur News, (ICN) - Ribuan karateka dari seluruh Indonesia tumpah ruah di Bundaran HI (Hotel Indonesia), Jakarta (17/04). Mereka merupakan karateka-karateka Inkai (Institut Karatedo Indonesia) yang sedang merayakan ulang tahun Inkai yang ke-40. Kegiatan yang diselenggarakan Pengurus Pusat (PP) Inkai ini adalah puncak dari rangkaian kegiatan memperingati ulang tahun Inkai, yang sebelumnya diselenggarakan juga acara Temu Kangen MSH se-Indonesia yang bertempat di Wisma Adi Cempaka Putih, pada tanggal 16 April 2011.

Kegiatan ulang tahun Inkai ke-40 ini juga sekaligus unjuk simpati untuk warga Jepang yang sedang dilanda musibah tsunami. “Pray for Japan” menjadi penanda bahwa Inkai ikut bersimpati terhadap penderitaan warga Jepang sekarang ini.

Acara ini dimulai dengan long march sebagian besar karateka yang sudah siap di Monumen Nasional (Monas). Mereka berjalan kaki menuju Bundaran HI dan segera bergabung dengan karateka lainnya yang sudah menunggu. Mulai dari karateka sabuk hitam senior sampai para junior sabuk putih terlihat begitu semangat meski jarak yang ditempuh lumayan jauh, namun antusiasme itu mampu menyurutkan rasa capai.

Tampak wajah-wajah antusias dan semangat yang dipimpin oleh Sekretaris Umum Inkai Jabar di panggung besar. Mars Inkai dan juga yel-yel tiadanya hentinya membahana membuat Bundaran HI seolah auditorium luas yang dipenuhi ratusan karateka Inkai ini. Lagu ‘Garuda di Dadaku’ menjadi inspirasi nada yel Inkai. Berikut adalah sepenggal lirik Yel Ulang Tahun Inkai:

Hari ini Ulang Tahun Inkai
Hari ini Kebangganku
Hari ini Semuanya Pasti Senang

Bet Inkai Dada Kiriku
Bet Forki Dada Kananku
Ku Yakin Hari ini Pasti Senang

Inkai yang lahir pada tanggal 15 April 1971, merupakan salah satu organisasi karateka yang paling banyak anggotanya dan juga salah satu penyumbang karateka-karateka andalan Indonesia dari generasi ke generasi. Dan tepat di tanggal 15 April 2011 Inkai berulang tahun yang ke-40.

Pukul 06.45 WIB, acara dimulai dengan pembukaan dari Sekretaris Umum Inkai Jawa Barat, Sensei Rakimin, yang juga sekaligus sebagai salah satu pemandu acara Ulang Tahun Inkai 2011 ini. Tampak hadir di panggung para Ketua Umum PP Inkai, Jend. (Purnawirawan) Ryamizad Ryacudu, Ketua Umum PB Forki Bapak Hendardji Soepandji, Sekretaris Umum PP Inkai Prof. Hermawan Sulistyo, Dewan Guru Inkai yang dimulai dari Sensei Albert Tobing (DAN VIII Inkai), Sensei Harmen Lukas Tompodung, Sensei Abdul Kadir, Sensei Atut, Sensei Madju Daryanto Hutapea, Sensei Stefanus Suparyono, Sensei Christine Taroreh, Sensei Eddy Mursalim, Sensei Kadar, Sensei Reinhard Willa, Sensei Taufik Abbas, dan anggota Dewan Guru Inkai lainnya.


Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia Gashuku Akbar Nasional Inkai 2011 yaitu Prof. Hermawan Sulistyo (lebih dikenal dengan panggilan Mas Kikiek) yang menjelaskan bahwa di daerah-daerah seluruh Indonesia juga diselenggarakan acara perayaan ulang tahun Inkai yang ke-40 dengan sama meriahnya. Acara selanjutnya merupakan sambutan singkat dari Ketua Umum PP Inkai, Jend. (Purnawirawan) Ryamizad Ryacudu, yang berpesan bahwa karateka Inkai wajib menjaga integritas dan sumpah karate dengan sebaik-baiknya.

Momen berikutnya, giliran Sensei Stefanus Suparyono sebagai Sekretaris Dewan Guru Inkai yang mewakili Dr. Nico A. Lumenta yang berhalangan hadir. Setelah itu, Bapak Hendardji Soepandji, sebagai Ketua Umum PB Inkai, juga menyampaikan pesannya bahwa di dalam sumpah karateka lebih ditonjolkan mengenai nilai kepribadian, dan hanya satu nilai mengenai prestasi. Jadi, beliau berpesan bahwa karakter diri yang didasari dengan nilai kepribadian dari sumpah karate merupakan poin yang sangat penting bagi karateka. Selain itu, beliau juga menegaskan bahwa soliditas adalah salah satu akar dasar mengenai munculnya karakter organisasi yang akan berhasil, dan ini telah dibuktikan dengan Inkai yang solid, dan mampu menghimpun karateka Inkai seluruh Indonesia.

Kegembiraan itu semakin terasa meriah ketika selesai acara sambutan dari para sensei Inkai dan juga dari Forki selesai, dilanjutkan dengan pelepasan balon gas ke udara yang dilakukan secara bersamaan oleh Ketua Umum PP Inkai dan Ketua Umum PB Forki.

Acara selanjutnya adalah penyerahan secara simbolis spanduk hasil penandatanganan “Pray for Japan” dari Sekjen PP Inkai, Prof. Hermawan Sulistyo kepada Ketua Umum PP Inkai, dan dilanjutkan dengan atraksi dari Pasukan Berkuda Kepolisian Republik Indonesia. Dengan diawali sikap hormat, para polisi berkuda ini memamerkan atraksi kuda yang diikuti oleh tepuk tangan meriah seluruh peserta.

Ulang tahun semakin terasa istimewa ketika di ujung acara, dilakukan pemotongan tumpeng oleh para Dewan Guru Inkai juga Ketua Umum PB Forki yang diserahkan secara simbolis kepada para atlet-atlet terbaik Inkai, diantaranya Supriyadi, Juara Best of The Best OSO Cup 2011 dan Senpai Abdullah Kadir. Selain itu juga hadir Christo Mondolu yang merupakan salah satu atlet Pelatnas Indonesia yang dipersiapkan untuk SEA Games 2011 ini.

Acara ini juga mampu menimbulkan antusiasme peserta. Ketiga pemandu acara di panggung mampu membawa suasana ulang tahun Inkai terasa menyegarkan dengan  celetukan-celetukan cerdasnya yang memancing tawa para karateka Inkai.

Tidak terasa, waktu sudah beranjak siang, dan ultah yang dihadiri tidak kurang 5000 (lima ribu) karateka ini selesai. Sebagian di antara karateka mengabadikan momen ini di panggung bersama beberapa Dewan Guru. Semoga Inkai selalu menjadi yang terbaik dan tahun depan perayaan ultah Inkai semakin meriah. Osh.

Laporan langsung : Tim Inkai Cianjur News, ICN (RP).(http://www.inkai-cianjur.co.cc/2011/04/gashuku-akbar-nasional-inkai-se.html) Read More...

20 KODE MORAL WAJIB KARATEDO

Niju Kun adalah 20 Kode Moral Wajib karatedo yang merupakan ajaran penting dari Master Gichin Funakoshi yang menjadi tuntunan dalam dojo juga dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini adalah Niju Kun secara lengkap:
  1. Karate-do wa rei ni hajimari, rei ni owaru koto wo wasurna (Karate-do begins with courtesy and ends with courtesy). Artinya Dalam karate mulai dengan sebuah sikap hormat (rei) dan berakhir dengan sebuah sikap hormat.
  2. Karate ni sente nashi (There is no first attack in karate). Artinya Tidak ada sikap menyerang lebih dulu dalam karate.
  3. Karate wa gi no tasuke (Karate is a great assistance to justice). Artinya Karate adalah sebuah pertolongan kepada keadilan.
  4. Mazu jiko wo shire, shikoshite tao wo shire (Know yourself first, and then others). Artinya Pertama kenali (kuasai) dirimu sendiri baru orang lain.
  5. Gijutsu yori shinjutsu (Spirit first; techniques second). Artinya Semangat/ pemahaman harus lebih utama, barulah kemudian teknik (teori).
  6. Kokoro wa hanatan koto wo yosu (Always be ready to release your mind). Artinya Selalu siap untuk membebaskan pikiranmu.
  7. Wazawai wa getai ni shozu (Misfortune [accidents] always comes out of idleness [negligence]). Artinya Kecelakaan muncul dari kekurang perhatian/ ketelodoran.
  8. Dojo nomino karate to omou na (Do not think that karate training is only in the dojo). Artinya Jangan berfikir bahwa latihan karatedo hanya di dalam dojo saja.
  9. Karate no shugyo wa issho de aru (It will take your entire life to learn karate). Artinya Tidak ada batas dalam mempelajari karatedo, belajar karatedo akan meliputi seluruh kehidupanmu.
  10. Arai-yuru mono wo karate-ka seyo, soko ni myo-mi ari (Put your everyday living into karate and you will find the ideal state of existence myo [secret of life]). Artinya Jalani kehidupan sehari-hari dalam konteks karatedo, maka kamu akan menemukan Myo (sebuah rahasia besar kehidupan).
  11. Karate wa yu no goto shi taezu natsudo wo ataezareba moto no mizu ni kaeru (Karate is like hot water. If you do not give it heat constantly, it will again become cold water). Artinya Karatedo seperti air dalam teko, bila tak dipanaskan maka ia pun akan tetap dingin.
  12. Katsu kangae wa motsu na makenu kangae wa hitsuyo (Do not think that you have to win. Think that you do not have to lose). Artinya Jangan berpikir masalah menang dalam pertarungan tapi pikirkan bagaimana agar kau tidak kalah dalam pertarungan.
  13. Tekki ni yotte tenka seyo (Victory depends on your ability to distinguish vulnerable points from invulnerable ones). Artinya Kemenangan tergantung dari kemampuanmu untuk membedakan antara titik yang mudah diserang dan yang tidak.
  14. Tattakai wa kyo-jutsu no soju ikan ni ari (Move according to your opponent). Artinya Pertarungan ditentukan dengan bagaimana kamu mampu mengontrol gerakanmu ataukah gerakanmu ditentukan oleh lawanmu.
  15. Hito no te ashi wo ken to omoe (Think of the hands and feet as swords). Artinya Pikirkan bahwa kedua tangan dan kakimu adalah pedang.
  16. Danshi mon wo izureba hyakuman no tekki ari (When you leave home, think that you have numerous opponents waiting for you. It is your behavior that invites trouble from them). Artinya Jika kamu keluar rumah, bayangkan selalu ada banyak musuh yang siap menanti. Semuanya tergantung pada tingkah lakumu apakah mencari ataukah menghindari masalah dari mereka.
  17. Kamae wa shoshinsha ni ato wa shizentai (Beginners must master low stance and posture; natural body position for advanced). Artinya Karateka pemula harus menguasai kuda-kuda dan bentuk tubuh. Karateka tingkat mahir lebih baik dengan Shinzetai (posisi tubuh alami) dalam sebuah pertarungan.
  18. Kata wa tadashiku jissen wa betsu mono (Practicing a kata is one thing, and engaging in a real fight is another). Artinya Memainkan sebuah Kata hanyalah satu hal. Penerapannya dalam sebuah pertarungan yang sesungguhnya adalah lebih berarti.
  19. Chikara no kyojaku, karada no shinshuku, waza no kankyu wo wasaruna (Do not forget [1] strength and weakness of power, [2] stretching and contraction of the body, and [3] slowness and speed of techniques. Apply these correctly). Artinya Jangan pernah melupakan koreksi terus-menerus akan tiga hal ini dalam sebuah latihan: [1] Pengaturan kelembutan dan kekerasan akan tenaga; [2] Peregangan dan pemanasan anggota tubuh; [3] Pengaturan kecepatan dan kelambatan sebuah teknik.
  20. Tsune ni shinen kufu seyo (Always think and devise it all times). Artinya Selalu memikirkan dan menemukan cara untuk melaksanakan semua ajaran ini sepanjang waktu.
Disarikan dari berbagai sumber oleh Blog Shindo (http://shotokan-indonesia.blogspot.com/2011/03/niju-kun.html)

Read More...

DOJO KUN

Setiap orang yang berlatih karatedo harus tahu tentang Dojo Kun atau bisa disebut juga Kode Etik Wajib dalam Dojo. Di setiap sesi akhir latihan, baik itu di dojo, kelas-kelas privat, bahkan harusnya ketika selesai kejuaraan pun (?) Dojo Kun ini seharusnya diucap ulang kembali oleh semuanya sebagai pengingat mengapa kita belajar karatedo. Dojo Kun terdiri dari filosofi dasar karatedo, yang berdasarkan pada ajaran filosofi Master Gichin Funakoshi. Master Funakoshi meyakini bahwa Dojo Kun, untuk karateka yang mendalami karatedo secara benar, tidak lagi sekedar aturan main dalam dojo, tapi justru merupakan tuntunan bagi kehidupan karateka sehari-hari. Setiap apapun yang kita pelajari di dojo, itu adalah alat kita untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini adalah Dojo Kun, yaitu:
  1. [Hitotsu] Jinkaku Kansei ni Tsutomuru Koto (Seek perfection of characters). Artinya [sanggup selalu] berupaya menyempurnakan kepribadian/ jiwa;
  2. [Hitotsu] Makoto no Michi o Mamoru Koto (Be faithful). Artinya [sanggup] selalu setia pada kejujuran;
  3. [Hitotsu] Doryoku no Seishin o Yashinau Koto (Endeavour to Excel). Artinya [sanggup] berusaha keras/ pantang menyerah;
  4. [Hitotsu] Reigi o Omonziru Koto (Respect Others). Artinya [sanggup] menghormati orang lain;
  5. [Hitotsu] Kekki no Yuu o Imashimeru Koto (Refrain from violent behavior). Arrtinya [selalu] menghindari jalan kekerasan.( http://shotokan-indonesia.blogspot.com/2011/03/dojo-kun.html )
Read More...

KONFLIK, EGO DAN KARATE

Masih ingat sepenggal bait lagu Iwan Fals yang berjudul Asik Nggak Asik?
“Dunia Politik Penuh dengan Intrik
Cubit Sana Cubit Sini itu Sudah Lumrah
Seperti Orang Pacaran
Kalau Nggak Nyubit Gak Asik…
…Dunia Politik Penuh dengan Intrik
Kilik Sana Kilik Sini itu Sudah Wajar
Seperti Orang Main Jangkrik
Kalo Gak Ngilik Gak Asik…”
Itu sepenggal lagunya yang menggelitik saya. Selama ini kita mengenal Iwan Fals (atau nama aslinya Virgiawan Listanto) sebagai seorang legenda hidup musisi Indonesia, padahal selain itu beliau adalah seorang karateka aktif penyandang sabuk hitam Dan IV dari Wadokai. Lirik tersebut, buat saya, memberikan pesan karakter kuat dari seorang Iwan Fals sebagai seorang karateka yang “hidup”, yang selalu gelisah dengan kondisi yang dianggapnya tidak sesuai dengan hati nurani. Lontaran kritik dalam lagu itu seolah menggambarkan bahwa ‘ada yang salah’ dengan sebagian kehidupan kita.
Lagu itu menggambarkan bahwa politik itu selalu penuh dengan trik, intrik, tipu muslihat. Realitasnya sebagian besar memang benar seperti itu. Pun bagi sebagian orang, politik menjadi sebuah ‘istilah’ yang menggambarkan kesan “kekotoran”, abu-abu, penuh nafsu, dan sederet keburukan lainnya. Politik telah menjadi sarana keegoisan manusia, dan dengan politik karakter dan ego manusia muncul, homo homini lupus, serigala pemakan bagi serigala lainnya.
Konflik biasanya bermula ketika ego satu orang/ pihak tidak tertampung oleh orang/ pihak lain. Kita bisa baca dan saksikan juga dalam karate, mulai dari penyebarannya, dalam konteks dunia modern, karate telah berkonflik, mulai dari tingkat yang kecil sampai yang spektakuler, sampai hari ini. Bisa konflik dari diri sendiri, maupun hubungan dengan orang lain.
Dalam contoh karate, konflik bisa mulai dari dojo, bahkan internal perguruan di level elit. Konflik memang telah menjadi sunnatullah (otoritas Tuhan) dalam relasi antar-manusia. Inilah yang berhasil dirumuskan oleh Hegel dengan rumusan Dialektika Sosial atau Dialektika Hegel dalam istilah tesis, antithesis, sintesis. Muncul konflik (tesis), muncul negasi (antithesis), dan menghasilkan sesuatu yang baru (sintesis atau dianggap tesis baru), serta ini akan berlanjut terus.
Master Funakoshi semenjak awal tidak menghendaki karatedo dipertandingkan. Namun kemudian Shihan Masatoshi Nakayama malah “melanggarnya” dan membuat pertandingan, meski setelah meninggalnya Master Gichin. Munculnya  konflik ‘persepsi’ ini membuat Master Gichin ‘menyepi’ dari JKA dan membuat Shotokai, yang sampai sekarang diteruskan oleh Klan dari Shihan Shigeru Egami.
Konflik terjadi ketika ego muncul dan  semua orang berpendapat ini yang terbaik. Demikian pula konflik internal perguruan karate di Indonesia, bisa menjadi contoh konflik dalam karate. Entah karena masalah sepele, sampai masalah prinsip. Sejak awal di tubuh FORKI sudah terdapat konflik ketika dulu ada yang menginginkan masuk ke WUKO dan IAKF, atau sekarang antara WKF dan ITKF. Contoh lain, organisasi INKAI, ada yang sekarang mengerucut ke FKTI dan FORKI. Selain itu, kemunculan INKANAS dibarengi pula dengan pemisahan diri sebagian anggota LEMKARI yang bergabung dengan MKC dan membentuk INKANAS, sampai kabar terakhir (saya kurang pasti untuk yang ini), ada juga perselisihan antar-karateka di PERKAINDO yang memutuskan diri membentuk SHOTOKAI (ini tidak ada kaitannya dengan nama Shotokai dari Shigeru Egami). Bahkan (katanya, dan ini perlu diklarifikasi seadainya tidak benar), Kandaga Prana dibentuk oleh sebagian dari karateka BKC awal yang memisahkan diri. Pun demikian dengan aliran kyokushinkai di Indonesia dengan perpecahan yang paling terlihat antara Shihan Nardi dengan Shihan JB Sujoto.
Konflik-konflik seperti itu sejatinya memang memang bisa mencerai-beraikan kesatuan kita sebagai karateka. Namun, memang kita tidak bisa menghindari berpisah ketika dasar argumen ini berkaitan masalah prinsip, ideologis. Hanya memang ‘perpisahan’ itu tidak boleh melunturkan semangat karatedo kita untuk saling menjaga kehormatan. Boleh beda, dimungkinkan ada konflik, namun Karatedo [selalu] diawali dan diakhiri oleh sikap menghormati  (Karate-do wa rei ni hajimari, rei ni owaru koto wo wasurna) adalah sebaik-baiknya sikap kita.
Politik [ego] memang kadang bisa menghancurkan tali persaudaraan. Namun, ini tergantung ‘keberanian’ kita untuk saling menghormati, to respect each other. Saya tidak bermaksud sama sekali mencampuri urusan internal perguruan masing-masing. Ini hanya respon saya terhadap kondisi yang sekarang. Kebetulan saya suka dengan lagu Iwan Fals di atas, jadi saya coba cari ‘garisnya’.
Oke. Daripada berbicara yang lain lagi, saya mau nyanyi lagu Iwan Fals berikutnya.
“…Namaku Bento
Rumah Real Estate
Mobilku Banyak
Harta Berlimpah
Orang Memanggilku
Bos Eksekutif
Tokoh Papan Atas
Atas Segalanya
Asik…!”

***
Terima kasih. Osh. [by BM] (http://karatedo-indonesia.blogspot.com/2011/01/konflik-politik-dan-karate.html) Read More...

ULANG TAHUN INKAI KE-40 DI CIANJUR

(Selamat Ulang Tahun Inkai yang ke-40 tahun)
Dalam momen Ulang Tahun Institut Karate-Do Indonesia (Inkai) ke-40 yang diperingati dengan meriah di Bundaran HI, INKAI Cabang Cianjur pun merayakan hari ulang tahun Inkai ini dengan tidak kalah meriah. INKAI Cabang Cianjur pada hari Minggu tanggal 17 April 2011 turut menyambut dan memperingati hari ulang tahun tersebut dengan melaksanakan gashuku yang diikuti oleh 100 orang anggota dan seluruh pemegang Sabuk Hitam kecuali Ratno Pajar yang dtidak hadir, karena memang sudah ditugaskan oleh Pengurus Cabang untuk mewakili menjadi peserta Gashuku Akbar Nasional yang dipusatkan di Bundaran HI. Acara gashuku INKAI Cabang Cianjur ini dilaksanakan di Lapangan Olah Raga SMA Pasundan I Cianjur.

Dalam memperingati hari ulang tahun yang ke-40 dan ulang tahun INKAI Cianjur ke-26, tidak cukup sampai pelaksanaan gashuku pada tanggal 17 April saja, namun direncanakan akan terus disambut dengan acara-acara yang puncaknya  Insya Allah pada tanggal 8 Mei 2011 yang berbarengan dengan pelaksanaan Ujian Kenaikan Tingkat Semester II Tahun 2011.

Dalam momen ulang tahun ini INKAI Cianjur, pesan pentingnya adalah menitikberatkan pada upaya peningkatan dari segi kedisiplinan dan memperkuat nilai-nilai etika antar-anggota. Karena disiplin dan etika merupakan nilai terpenting bagi Karate-ka sebagai modal dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi salah satu modal penting dalam meraih suatu prestasi yang gemilang.

Dalam momen ini, INKAI Cianjur mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada INKAI yang ke-40. Semoga dengan umur yang ke-40 ini menjadi pendorong untuk lebih maju dan berkembang. HIDUP INKAI............! dan INKAI PASTI DI DADA!
(http://www.inkai-cianjur.co.cc/2011/04/ulang-tahun-inkai-ke-40.html)
Read More...

FORKI AKAN GELAR LIGA PRIMER KARATE 2012

Ketua Umum PB. FORKI Hendardji Soepandji
Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) siap mengembangkan program terbaru karate demi meningkatkan kualitas karateka Indonesia. Salah satunya, Forki akan menggelar Liga Primer Karate atau WKF Premier League (Karate 1) .
“Kami akan menyelenggarakannya tahun 2012 nanti. Peluang emas bagi Indonesia untuk berprestasi,” kata Ketua Umum PB Forki Hendardji Soepandji Hendardji saat pemberian penghargaan kepada 44 tokoh nasional dalam rangka HUT ke-47 Forki di Lapangan Gandhi Memorial International School Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 9 April 2011.
Menurut Hendardji yang juga merupakan Presiden Federasi Karate Asia Tenggara (SEAKAF), program ini menjadi terobosan besar sepanjang sejarah Forki yang berdiri pada 10 Maret 1964. Sebab, ajang ini akan membawa karateka Indonesia ke arah profesional. Di Eropa Barat, liga profesional karate memang sudah berkembang. Hanya,mereka lebih melibatkan klub-klub di negara-negara itu. Sementara Liga Primer Karate yang akan digelar Forki tentunya lebih membawa nama negara.
“Ini yang membuat ajang Liga Primer ini menjadi lebih bergengsi karena persaingannya ada di level dunia. Sepuluh negara yang akan menjadi tuan rumah Liga Primer termauk Indomnesia nanti akan mengadakan rapat untuk membahas tentang penyelenggaraan kompetisi ini," Ungkap Hendardji.
Hendardji menambahkan Liga Primer itu sudah digelar tahun ini, 15-16 Januari Karate 1 - Premier League (Open of Paris) di Paris, France. 17-18 September Karate 1 -Premier League (Istanbul Open) Istanbul, Turkey. Dan 12-13 November Karate 1 - Premier League Salzburg, Austria.  Untuk Tahun 2012, 10 negara tuan rumah Liga Primir diantaranya, Perancis, Turki, Austria, Swis, Itali, Indonesia, China, dan masih tiga Negara ditunggu persetujuan dari WKF.
Yang jelas, Liga Primer Karate dijadwalkan berlangsung setiap bulan, dan akan melibatkan 186 negara anggota Federasi Karate Dunia (WKF). ***Fsaidi (http://www.pbforki.org/index.php?option=com_content&view=article&id=639:forki-akan-gelar-liga-primer-karate-2012&catid=68:news&Itemid=113) Read More...

Jumat, 15 April 2011

Happy Brithday INKAI ke 40th

Happy Brithday INKAI ke 40th ( 15 April 1971 - 15 April 2011)
Hadirilah Peringatan EMPAT DASA WARSA INKAI - HUT KE 40 th. GASHUKU AKBAR di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta tgl 17 April 2011 pukul 06.30 WIB...
Semoga INKAI Tetap JAYA...!!!
Read More...