INSTITUT KARATE-DO INDONESIA
Dojo 104 - Jakarta Selatan

Kamis, 16 Juni 2011

RIWAYAT INTERNATIONAL BLACK PHANTER KARATE

APAKAH yang diajarkan Prof Teuku M.A.S.D.E.S.W. Syahriar Mahyoedin C.L.M.Sc, dengan organisasinya: International Black Panther Karate, karate atau bukan ? Tokoh-tokoh di PB FORKI yang ditanyai TEMPO umumnya memberikan jawaban sekitar "Saya belum pernah lihat" dan "Yaah, cuma...". Sabeth Muchsin berpendapat "bentuk-bentuk Kihonnya memperlihatkan unsur-unsur karate". Juga Nico Lumenta yang seorganisasi dengan Sabeth di INKAI berpendapat sama. "Cuma kelihatannya banyak unsur bantingan judo di sana", katanya.

Bagaimanapun juga komentar yang terdengar selama ini menunjukkan adanya keragu-raguan fihak tokoh-tokoh FORKI akan "murninya" karate yang diajarkan Syahriar. Hal ini agaknya bukan tak disadari Syahriar sendiri. Barangkali itulah sebabnya dalam suratnya kepada PB FORKI tanggal 17 September 1975 yang berisi jawaban Black Panther untuk tidak mau berafiliasi dengan satu diantara delapan aliran yang sudah diakui FORKI. Syahriar tak lupa mengundang fihak PB FORKI untuk "meringankan langkah untuk membuktikan dengan mata kepala sendiri bagi penggemblengan para karateka anggota perguruan kami". Kepada TEMPO dua minggu lalu, Syahriar malahan menegaskan lagi bahwa kalau diperlukan ia tidak keberatan ada team penilai FORKI untuk menilai aliran Black Panther. Tapi dengan syarat: anggota penilai haruslah orang-orang dari kelompok yang bukan Shotokan, di samping organisasinya lebih besar daripada organisasi Black Panther. Tidak hanya itu. "Kalau toh FORKI masih penasaran lebih baik datangkan saja tokoh-tokoh bangsa Jepangnya dari Jepang dari semua aliran ke bumi Indonesia untuk melihat aliran atau gerakan Black Panther", kata Teuku Syahriar. Tapi dari mana sesungguhnya Teuku Syahriar belajar karate? Dalam karate-gi tebal bertuliskan nama lengkapnya di dada kanan, simbul Black Panther di dada-kiri serta sabuk merah (di Jepang ini berarti si pemakainya sudah tingkat master atau pencipta aliran) di pinggang, di sela-sela gaduh suara latihan di gang sempit deretan ruang kuliah yang sudah kosong di kompleks UI Salemba Petang jum'at dua minggu lalu, Teuku Syahriar menyingkapkan kisahnya. Menurut Syahriar, ia mulai belajar karate ketika baru berusia 7 tahun di Medan. Gurunya bernama Kobayashi, seorang perwira intel Jepang kelahiran Okinawa meskipun ibunya berasal dari Korea. Kobayashi, menurut Syahriar telah menjadi kenalan baik keluarga mereka. Mungkin karena itu suatu hari si intel ini menawarkan kepada kakeknya Syahriar untuk mengajarkan "ilmu beladiri Jepang yang hebat yang disebut karate". Merasa sudah tua si kakek menolak, tapi minta kepada Kobayashi agar ilmu itu diajarkan saja kepada cucunya, Syahriar Mahyoedin. Passus Berani Mati. "Jadi karate saya asli asal Okinawa", kata Syahriar. "Waktu itu memang saya kagum pada Kobayashi karena dia mendemonstrasikan mampu memecahkan benda-benda keras dengan tangan kosong". Menurut Syahriar ia tidak pernah menanyakan kepada gurunya aliran apa yang diajarkannya itu. "Soal aliran itu baru sekarang saja timbulnya". kata Syahriar. "Dulu tidak ada aliran-aliran". Katanya, setelah Jepang meninggalkan Indonesia ia tetap meneruskan latihan karate yang sudah didapatinya dari Kohayashi. Kemudian ia melanjutkan memperdalam ilmu karatenya di beberapa kota di Okinawa seperti Koza, Naka dan Nago. Kapan itu ? "Yaa, sekitar tahun lima-puluhanlah". Akan nama Black Panther yang kini dipakainya, sejarahnya tak kurang serunya. Menurut Syahriar ketika sedang berkecamuk Perang Korea dibentuklah pasukan khusus (Passus) "berani mati" untuk membantu Korea yang hampir dicaplok komunis. Anggota Passus ini terdiri dari bekas-bekas tentara Jepang ahli-ahli karate di masa Perang Dunia ke-II. Passus ini kemudian dipecah dua masing-masing diberi nama Black Panther dan Black Tiger. Kisah ini juga termuat semua dalam "Buku Pintar" yang lumayan tebalnya dixerox dan dijilid rapi berisi abc-nya seni beladiri karate umumnya dan Black Panther khususnya yang -- seperti dikatakan. Syahriar "menjadi pegangan bagi setiap instruktur International Black Panther Karate". Passus itu menurut Syahriar terdiri dari bermacam bangsa (Asia) Dalam "Buku" itu terdapat nama-nama seperti Koshima Atsukowatanabe, Hareda Yamamoto, Mitsui Kobayashi - semua dari Jepang, Kilu Yong Hac dan Kwong Chu Sun dari Korea, Nguyen Quie Sung dan Yung Ngie Caotrie dari Viet Nam. Tapi baik Syahriar maupun "Buku" tidak menyebut-nyebut di mana orang-orang ini kini berada dan siapa yang membentuk Passus itu. Hanya pembentukannya terjadi 7 Agustus 1950 dengan anggota 113 orang. Surat Hwang Kee. "Pada bulan Pebruari 1960 secara diam-diam dan di tempat yang agak tersembunyi di salah satu tempat di Kebayoran Baru Teuku Syahriar Mahyoedin selaku orang yang mengetahui ilmu dari Black Panther Karate ini melakukan latihan-latihan khusus dengan beberapa orang anggota militer" -begitu tertulis di "Buku" di bawah Bab "Lahirnya International Black Panther Karate di Bumi Indonesia". Disebutkan, dari Kebayoran latihan kemudian dialihkan ke Cilincing. Tapi karena rahasia ini kelihatannya mulai terbongkar, latihan digeser lagi ke arah Bekasi. Dan agar tidak diketahui penduduk--maklumlah rahasia namanya -- untuk mencapai tempat latihan "diadakan suatu sistim penyusupan para anggota seorang demi seorang pada tengah malam buta". Karena untuk memecahkan benda-benda keras tentu harus ada benda-bendanya maka meskipun namanya menyusup para anggota juga harus berhasil menggotong benda-benda keras itu ke tempat latihan. Ada kesan kisah latihan di "Buku" ini ada hubungannya dengan Trikora jika dibaca kalimat ini: Maka pada tanggal 7 Agustus 1960, yaitu saat sedang berkecamuknya situasi pengiriman pasukan-pasukan Indonesia ke sekitar Irian Barat dan bertepatan pula dengan hari latihan khusus para karateka tadi pada hari Minggu dinihari jam 00.03 dengan suatu upacara yang sangat sederhana tetapi penuh khidmat International Black Panther di bumi Indonesia diresmikan". Pimpinan Tertinggi: Teuku Syahriar Mahyoedin. Wakil: Dr. Armeyn Siregar. Toh beberapa pertanyaan memang belum terjawab di sini. Misalnya, apakah implikasi dari kata International dalam "International Black Panther Karate yang dipimpin Teuku Syahriar. Apakah organisasi ini ada induknya di luar negeri ? Bagaimana sistim pengujian kenaikan tingkat di level sabuk Hitam dan di mana Teuku Syahriar sendiri ujian ? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tak penting bagi orang awam. Tapi bagi tokoh-tokoh karate Indonesia yang merasa telah menghirup langsung ilmunya dari sumber aslinya soal-soal di atas dipandang serius. Sehingga ketika mendengar bahwa Black Panther disebut-sebut berasal dari Korea, seorang karateka anggota PORKI tahun 1971 mencoba menceknya ke sana liwat surat pribadi kepada Presiden Federasi Organisasi Karate Korea, Hwang Kee. Dan wasangka terhadap Black Panther justru kiat berkembang di tubuh PORKI ketika bulan April tahun itu juga diterima jawaban dari Hwang Kee bahwa sepanjang pengetahuannya "tidak ada yang disebut Black Panther Karate Unit baik di Korea, Viet Nam, Cina, Jepang maupun Amerika". Tapi ia memang ada mendengar nama kumpulan karate seperti di Pilipina. Perkindo ? Agaknya tak dapat disangkal timbulkan pertikaian yang sengit mengenai aliran antara FORKI di satu fihak dan Black Panther sebagai anggota FORKI di lain fihak sekarang ini bertolak dari wasangka yang telah timbul sejak beberapa tahun yang lalu itulah. Tapi di fihaknya, Teuku Syahriar bukan tak punya wasangka sendiri terhadap FORKl. "Jauh sebelum Musyawarah Lembaga Aliran FORKI itu, Black Panther memang sudah menjadi bulan-bulanan", kata Syahriar. Sebabnya, "karena Black Panther dianggap merupakan saingannya", meskipun 'kami sama sekali tak punya ambisi apa-apa kecuali hanya ingin mendidik generasi muda ilmu seni beladiri karate. Itulah sebabnya kami tak merasa perlu untuk duduk dalam kepengurusan FORKI". Putera ke-8 dari 17 bersaudara kandung, Teuku Syahriar yang kini baru meliwati usia 33 tahun mengatakan "walau apapun yang terjadi Black Panther tetap tidak mau berafiliasi dengan salah satu dari aliran yang 8 itu". Katanya, sekarang ini Black Panther mempunyai anggota antara 15 sampai 18 ribu orang terdiri dari sipil maupun militer, tersebar di Sumatera dan Jawa. "Saya siap menghadapi risiko apapun. Ke luar dari FORKI maupun Black Panther dibubarkan. Black Panther boleh dibubarkan, asal oleh pemerintah, karena kami badan hukum". Dibubarkan atau tidak itu memang seperti dikatakan Ketua Umum PB FORKI Widjojo Sujono--bukan urusan FORKI melainkan urusan pemerintah (lihat box). Tapi risiko yang ditantang Syahriar agaknya telah mulai berdatangan sekarang. Menurut Syahriar, di Surabaya anggota-anggota Black Panther sedang latihan terpaksa menghentikan latihannya karena lampu-lampu ruangan ada yang mencopotinya karena di tempat yang sama ada aliran lain yang mau latihan. Di Karate Hall Cempaka Putih Jakarta, di mana Black Panther menurut Syahriar biasa mendapat jatah latihan 2 kali seminggu a 2 jam, kini tinggal diberi jatah seminggu sekali saja. Sedang aliran-aliran lain, katanya, diberi jatah 2 kali seminggu a 2 jam. Kurang jelas apakah dalam hubungan dengan situasi sekarang ini juga tapi waktu TEMPO menemuinya di UI dua minggu lalu tempat latihan anggota-anggota Black Panther yang sudah lama menunggu mendadak harus dipindahkan ke suatu gang sempit antara ruang-ruang kuliah akibat "petugas yang pegang kunci ruangan yang biasa dipakai latihan Black Panther tidak muncul". Ketegangan nampaknya sedang berkelibat mengatur langkahnya di kalangan dunia beladiri yang satu ini! Sementara itu fihak Teuku Syahriar rupanya bukan tidak memikirkan untuk ke luar dari posisi defensifnya sekarang dan mulai membuat langkah ofensif. Menurut Syahriar ia kini sudah siap untuk membuat wadah persatuan baru di luar FORKI. Katanya wadah ini akan diberi nama PERKINDO yaitu singkatan dari Persatuan Karate Indonesia. Wadah ini akan menampung anggota-anggota FORKI yang schaluan dengan Black Panther dan mengikuti Black Panther ke luar dari FORKI. Juga akan menampung "semua aliran karate yang berada di luar FORKI yang selama ini diputuskan harus memiliki 5 Pengda baru bisa diterima menjadi anggota dan harus bergabung dari 8 kelompok yang telah ditetapkan". "Bayi PERKINDO yang akan lahir sudah dijamin dalam segala segi oleh para tokoh militer dan sipil yang memang merasakan adanya rasa tidak puas yang dilakukan oleh FORKI sejak lama", kata Syahriar. Tapi Ketua Umum PB FORKI Letjen Widjojo Sujono tidak yakin pembentukan wadah baru karate itu bisa dilakukan.

0 komentar: